Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 April 2012

PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam (0-6) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. 

    Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional ( sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
 

B. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini Dalam membangun Bangsa

   Kondisi Sumber Daya Manusia Indonesia berdasarkan hasil suvei yang dilakukan oleh PERC (Political and Economic Risk Consultancy) pada bulan Maret 2002 menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke-12 terbawah di kawasan ASEAN yaitu setingkat di bawah Vietnam. Rendahnya kualitas hasil pendidikan ini berdampak terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam kondisi seperti ini tentunya sulit bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

   Pembangunan sumber daya manusia yang dilaksanakan di Negara-negara maju seperti Amerika serikat, Jerman, Jepang dan sebagainya, dimulai dengan pengembangan anak usia dini yang mencakup perawatan, pengasuhan dan pendidikan sebagai program utuh dan dilaksanakan secara terpadu. Pemahaman pentingnya pengembangan anak usia dini sebagai langkah dasar bagi pengembangan sumber daya manusia juga telah dilakukan oleh bangsa-bangsa ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura, termasuk Negara industri Korea Selatan. Bahkan pelayanan pendidikan anak usia dini di Singapura tergolong paling maju apabila dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya.

   Di Indonesia pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih terkesan ekslusif dan baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun berbagai program perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini ( 0-6 th) telah dilaksanakan di Indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukkan anak usia 0-6 th yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih rendah. Data tahuan 2001 menunjukkan bahwa dari 26,2 juta anak usia 0-6 th yang telah memperoleh layanan pendidikan dini melalui berbagai program baru sekitar 4,5 juta anak (17%). Kontribusi tertinggi melalui Bina Keluarga Balita (9,5 %). Taman Kanak-Kanak(6,1%). Raudhatul Atfal (1,5%). Sedangkan melalui Penitipan Anak dan Kelompok Bermain kontribusinya masing-masing sangat kecil yaitu sekitar 1% dan 0,24%.

   Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan bagi anak usia dini saat ini antara lain disebabkan masih terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan dini jika dibandingkan dengan jumlah anak usia 0-6 tahun yang seharusnya memperoleh layanan tersebut.

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk mengoptimalkan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Artinya, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini.

   Dewasa ini masyarakat semakin menyadari pentingnya pendidikan TK. Hal ini tampak dengan berkembangnya TK di seluruh Indonesia. Tahun 1969 jumlah TK di seluruh Tanah Air hanya 6872 sedangkan tahun 1985 sudah meningkat menjadi 25.382 TK dengan jumlah murid 1.258.468 orang (Agus,F.T,: 1986).


ASPEK FISIK
Secara fisik, anak membutuhkan nutrisi dan perhatian yang baik serta kesehatan oral. Nutrisi yang baik memungkinkan pertumbuhan dan perkembagan otak dan rangka yang maksimal.  Anak sedang mematangkan tulang dan kerja otot-otot. Pada dasarnya anak memiliki bahan dasar untuk berkembangnya keterampilan motorik kasar seperti berlari, melompat, yang melibatkan penggunaan otot besar dan motorik halus.Keterampilan motorik halus merupakan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan, seperti mengancing baju, melukis gambar. Dengan menguasai keterampilan ini anak dapat melaksanakan tanggung jawab lebih besar seperti merawat diri sendiri. Apabila kedua keterampilan di atas terus dikembangkan maka anak akan menghasilkan kemampuan yang lebih kompleks, yang kombinasinya dikenal dengan nama sistem tindakan. Untuk menghindarkan anak miskin akan keterampilan-keterampilan tersebut, peran pendidikan anak usia dini begitu penting dalam menguasai keterampilan motorik kasar, halus, dan sistem tindakan.   



ASPEK SOSIO-EMOSIONAL
 Anak usia dini juga merupakan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, anak pertama kali berbicara, berinteraksi dengan orang tuanya dalam mengutarakan dan memenuhi kebutuhannya Selanjutnya anak pra-sekolah berkembang ke luar rumah khususnya kepada teman-teman dekat rumah dan di pendidikan Taman Kanak-kanaknya. Sebenarnya masa pra-sekolah/usia dini ini adalah masa bermain dan kegiatannya lebih banyak pada kegiatan bermain ketimbang belajar secara akademik. Di dalam interaksi antar anak saat bermain, mereka saling melibatkan emosi dan dengan sendirinya berupaya mengenali emosi teman lainnya dan mengalami emosi diri sendiri. Dalam suatu permainan dengan beberapa anak lainnya, anak mengenal dan memegang aturan main atau kesepakatan bersama. Ini berarti anak juga belajar mengendalikan diri untuk tidak semata-mata menuruti keinginannya atau mulai mengurangi sikap egocentris. Dalam proses bermain atau kegiatan dalam pendidikan TK, anak mengenal dan mengalami emosi/perasaan yang berbeda seperti marah, sedih, gembira, bersemangat dan sebagainya. Secara bertahap anak memiliki kelompok teman bermain. Ia mulai mengenal secara social satu per satu nama teman bermainnya.     


ASPEK KOGNITIF
     Menurut Piaget, usia dini ini identik disebut tahap pra-operasional (early childhood), yang ditandai dengan anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata dan gambar. Kata dan gambar ini merefleksikan peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui koneksi informasi inderawi dan tindakan fisik. Pada tahap ini, anak lebih bersifat egocentris dan intuitif ketimbang logis. Oleh karena itu, anak pada tahap ini perlu dilibatkan dalam interaksi sosial dengan teman sebayannya agar anak mampu mengurangi egocentris dengan memahami teman-temannya melihat suatu objek dengan cara yang berbeda. Anak dapat juga diminta untuk menata sekelompok objek untuk menggolongkan atau mengkategorikan objek-objek secara berurutan dan beralasan. Dengan demikian anak terbantu kemampuannya untuk mengurutkan. Karakteristik lain dari anak pra-operasional ini adalah mereka suka mengajukan banyak pertanyaan. Banyaknya pertanyaan “mengapa” yang diajukan anak usia 3 -5 tahun membuat orang tua kesal sehingga orang tua bersikap marah dan menghentikan keinginan anak untuk bertanya lebih lanjut. Padahal anak yang bertanya ini merupakan pengalaman pertamannya mempertanyakan lingkungan sekitarnya yang merupakan awal minat anak untuk melakukan penelitian. Padahal ini kesempatan emas bagi orang tua untuk mengembangkan dan memberi stimulasi melalui jawaban reasoning atas pertanyaan yang diajukan. Untuk melatih persepektif yang beragam, anak diminta untuk menggambar objek dari persepektif tempat duduk yang berlainan.


Referensi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar