Total Tayangan Laman

Rabu, 23 Mei 2012

JOHARI WINDOW


Komunikasi Efektif Guru terhadap Peserta Didik, Sejawat, Orang
Tua/Wali, dan Masyarakat Melalui Johari Window

            Dalam konteks ilmu Komunikasi, maka komunikator (source, encoder), yaitu  pihak yang mengirim pesan, memegang peranan penting  dalam mengendalikan komunikasi, oleh karenanya untuk suatu komunikasi yang efektif, diperlukan komunikator (seperti guru) yang senantiasa menambah khasanah mengenal diri sendiri sebelum menjadi komunikator. Guru juga harus memiliki kepercayaan (credibility), daya tarik (attractive), dan kekuatan (power). Berikut ini akan dikemukakan keempat persyaratan yang diperlukan untuk menjadi komunikator yang afektif, secara berurut.
1)  Mengenal Diri Sendiri
            Sebelum komunikator (guru) mengambil inisiatif  melakukan komunikasi, ia mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu, sehingga ia mengetahui hambatan yang mungkin terjadi yang berasal dari dalam dirinya. Misalnya berdasarkan kekuatan dirinya, komunikator memilih komunikasi lisan daripada komunikasi tulisan, atau mengkombinasikannya. Joseph Luft dan Harrington Ingham (Cangara, 2009) mengenalkan konsep “Johari Window”. Menurut konsep Johari Window tersebut, setiap manusia mempunyai empat kaca jendela, yaitu wilayah terbuka (open area), wilayah tersembunyi (hidden area), wilayah tidak dikenal (unknown area), dan wilayah buta (blind area). Keempat wilayah tersebut digambarkan sebagai berikut:

                          Information known                Information unkown
                                    to self                                     to self
                                


Open Area


Blind Area




Hidden Area


Unknown Area




Information
    Kown
  to others




Information
 Unknown
  to others



Open Area : Wilayah terbuka merupakan wilayah yang diketahui oleh subjek (misalnya guru) tentang dirinya, misalnya kekuatan dan kelemahan dirinya, bakatnya, minatnya, kesukaannya, kebaikannya.  Demikian pula orang lain mengenal diri subjek (misalnya siswa, sejawat, orang tua/wali siswa).
Blind Area : Wilayah buta merupakan wilayah yang tidak diketahui  oleh subjek, akan tetapi diketahui oleh orang lain.
Hidden Area: Wilayah tersembunyi merupakan wilayah yang diketahui oleh    subjek, namun tidak diketahui oleh orang lain.
Unknown Area: Wilayah yang tidak diketahui oleh subjek maupun orang lain.

            Keempat wilayah jendela tersebut dalam kaitannya dengan komunikasi yang efektif (komunikasi yang mengena), dikemukakan sebagai berikut:
a)      Komunikasi yang mengena memerlukan kemampuan mempertemukan karakteristik (seperti keinginan, sifat, motivasi, kelemahan, kelebihan) yang dimiliki oleh orang lain dengan karakteristik yang dimiliki oleh diri sendiri. Jika di dalam komunikasi tidak terdapat kesesuaian, misalnya subjek mendesakkan keinginan dirinya pada orang lain, maka komunikasi akan terganggu, bahkan terhambat. Untuk dapat mempertemukan subjek (guru) (yang mempunyai karakteristik dirinya) dengan orang lain (siswa, sejawat, orang tua/wali siswa) yang juga memiliki karakteristik dirinya, maka wilayah open area harus diperluas. Digambarkan sebagai berikut:


                                                Information                                          Information
                                                kown to self                                         unknown
                                                                                                             to self




Open Area







Blind Area



Hidden Area

Unknown Area



             Information
             Kown
             to others





            Information
            Unknown
            to others



      b) Sesuai dengan perluasan wilayah open area, maka komunikasi akan mengena jika unknown area diperkecil. Unkown area yang kecil, akan memudahkan subjek untuk melakukan komunikasi yang tepat.
c) Meletakkan hidden area yang over disclose (terlalu mengungkap yang seharusnya tersembunyi) dan hidden area yang under disclose (terlalu menyembunyikan yang seharusnya terbuka) secara tepat.  Perilaku over disclose misalnya, subjek membuka problem rumah tangganya pada sembarang orang, dan under disclouse misalnya, subjek menutup rapat kelemahan dirinya yang seharusnya dikemukakan pada orang tertentu agar komunikasi dapat berlangsung harmonis. Misalnya sifat guru yang selalu menuntut siswa mampu berpikir cepat.
d)     Memahami bahwa unknown area adalah wilayah yang paling kritis dalam komunikasi, yang kerap menimbulkan persepsi yang salah, konflik, dan putus komunikasi. Wilayah ini harus dicermati sebagai wilayah yang seringkali menjadi sumber permasalahan komunikasi. Jika muncul permasalahan, maka subjek mempelajari dari sisi unknown area sehingga menjadi open area. Pembukaan diri dilakukan secara terus menerus.
            Cara memperluas open area dapat dilakukan dengan cara:
a)Menerima masukan-masukan atau kritik-kritik dari orang lain mengenai diri sendiri dan meminta masukan-masukan maupun kritikan positif dari orang lain.
b)      Subjek menyesuaikan/menyocokkan diri dengan nilai-nilai, norma-norma, hukum-hukum yang  berlaku
   Tiga  Contoh games yang dapat dilakukan.

Contoh games 1:
Judul                       : Tanda Tangan
Tujuan                     : Siswa mengenal dirinya sebagaimana dikenal oleh orang
                                  lain.
Waktu                     : Sekitar 30 menit
Tempat                    : Ruangan yang cukup luas untuk bergerak dan berjalan
Bahan                      : Lembar tanda tangan dan pensil/pena untuk setiap siswa
                                  peserta.
Prosedur                  :
(1) Guru menjelaskan kepada siswa tentang akan dilakukan suatu permainan yang
akan memberi pemahaman terhadap sesuatu, kepada siswa
(2) Guru membagikan lembar tanda tangan dan alat tulis kepada siswa
(3) Guru meminta siswa melaksanakan instruksi pada lembaran yang telah   
      dibagikan, dan guru memberitahukan bahwa siswa diberi waktu selama 3  menit  untuk memperoleh 10 ciri atau sifat yang menggambarkan dirinya, yang dipandang sesuai dengan pandangan atau penilaian siswa lain. Siswa hanya boleh meminta satu sifat (satu tanda tangan) dari sifat yang dipandang sesuai oleh siswa lain.
(4) Ketika hampir seluruh siswa telah menyelesaikan tugasnya, guru menghentikan kegiatan mencari tanda tangan tersebut.
(5) Siswa yang belum memperolah 10 tanda tangan, diminta untuk menanyakan persetujuan atau ketidaksetujuan siswa-siswa lain. Siswa meminta  persetujuan atau ketidaksetujuan dihadapan seluruh siswa.
(6) Guru menjelaskan makna dari permainan


Lembar Tanda Tangan:

Lembar Tanda Tangan

Petunjuk:
1. Pilih 10 ciri atau sifat berikut ini yang menurut anda menggambarkan diri anda,
    kemudian tandatangani masing-masing sifat tersebut pada kolom sebelah kiri
    yang tersedia.
2. Tanyakan pada teman anda apakah ia setuju atas ciri/sifat yang menurut anda
    menggambarkan diri anda. Jika teman anda setuju, maka ia memberi
    tandatangannya pada kolom sebelah kanan, pada ciri/sifat yang ia setujui.  Satu
     orang teman hanya boleh memberi persetujuan pada satu buah ciri/sifat anda.
3. Anda diberi waktu sangat terbatas, oleh karenanya selesaikan tugas anda
    secepat mungkin.
Tanda Tangan Anda
No.
Ciri/Sifat
Tanda Tangan Teman Anda

1
Terbuka


2
Datang tepat waktu


3
Terlambat bangun pagi


4
Pemalu


5
Senang minta bantuan


6
Percaya tahyul


7
Mudah tersinggung


8
Tertutup


9
Menyelesaikan PR pada penghujung waktu


10
Sering marah


11
Malas menyikat gigi


12
Pemarah


13
Suka memakan makan kecil (ngemil)


14
Menikmati musik


15
Ikut berpergian bersama orang tua


16
Menarik dipandang


17
Cengeng


18
Berhati-hati


19
Senang memelihara kembang/bunga


20
Senang bekerja dalam kelompok



Contoh games 2:
Judul                       : Saya – Anda
Tujuan                     : Siswa mengenal temannya
Waktu                     : Sekitar 30 menit
Tempat                    : Ruangan kelas
Bahan                      : Kursi duduk
Prosedur                  :
1. Masing-masing sepasang siswa duduk berhadapan
2. Seorang siswa dari pasangan menyebut satu sifat/ciri dirinya, dengan dimulai
    kata: Saya ...
3. Seorang siswa yang lain dari pasangan tersebut menyebut satu sifat/ciri diri
    teman dihadapannya, dengan dimulai oleh kata: Anda ...                                     
   Demikian dilakukan oleh pasangan Jumlah menyebutkan bebas, misalnya  
    sampai 3 , 5 ciri/sifat.
4. Kegiatan yang sama dilakukan oleh pasangan-pasangan siswa lainnya.
5. Guru menjelaskan makna dari permainan
               
Contoh games 3:
Judul                       : Bahasa Nonverbal (Bahasa Tubuh)
Tujuan                     : Siswa mampu memahami perasaan orang lain
Waktu                     : Sekitar 30 menit
Tempat                    : Ruangan kelas
Bahan                      : Kursi duduk
Prosedur                 :
1. Siswa mencari pasangannya
2. Pasangan siswa duduk berhadapan atau berdiri berhadapan
3. Satu anggota pasangan menyampaikan perasaannya secara nonverbal (bahasa
    isyarat) kepada pasangannya.
4. Pasangan menyimpulkan perasaan yang diperlihatkan oleh pasangannya,
    misalnya perasaan marah kepada teman, perasaan sedih karena sahabat pergi,
    perasaan lucu.
5. Pasangan pemberi isyarat mengemukakan perasaannya
6. Pasangan mengomentari jika terjadi perbedaan penafsiran perasaan.
    Demikian dilakukan oleh masing-masing pasangan siswa.
7. Guru menjelaskan makna permainan.                                                                     
            Selain konsep Johari Window, Weaver (1978) mengenalkan empat konsep diri, yaitu self awareness, self acceptance, self actualization, dan self disclose. Self awareness adalah kesadaran diri tentang siapakah aku, dimana aku berada, bagaimana orang lain memandang diriku. Self acceptance adalah penerimaan atas kenyataan diri, dan self actualization adalah perwujudan potensi diri. Disclose adalah mengungkap diri sehingga orang lain mengetahui yang diinginkan. Melakukan disclose memerlukan keterampilan, sehingga komunikasi yang dilakukan memperoleh sasarannya.     
2)  Kepercayaan (Credibility)
            Kepercayaan yang dimiliki komunikator (seperti orator, guru, kepala sekolah, penyuluh) membuat khalayak mengikuti pemikiran dan perbuatannya. Kekuatan tersebut diperoleh melalui ethos (kekuatan karakter pribadi), melalui pathos (kekuatan mengendalikan emosi), dan kekuatan melalui logos (kekuatan pengetahuan). Menurut bentuknya, kredibilitas dibedakan atas initial credibility, derived credibility, dan terminal credibility. Initial credibility adalah kepercayaan yang dimiliki komunikator sebelum proses komunikasi berlangsung, misalnya pembicara yang mempunyai nama besar, mendatangkan banyak pendengar. Contohnya, kepala sekolah yang mengontrol datang ke kelas, membuat siswa lebih tertib. Derived credibility adalah kepercayaan yang dimiliki oleh komunikator pada saat komunikasi berlangsung. Ekspresi pendengar seperti tepukan tangan. Terminal credibility adalah kepercayaan yang diperoleh setelah komunikator menyampaikan  pembicaraan/pidatonya. Kepercayaan terhadap komunikator didukung oleh pengetahuan yang luas tentang substansi, sikap bersahabat, dan kemampuan melibatkan unsur sistem sosial, dan budaya.
3)  Daya tarik (Attractiveness)         
            Daya tarik yang dimiliki komunikator (guru, dan lainnya) akan membuat khalayak (siswa) menaruh perhatian, simpati, dan mengikuti. Daya tarik dapat bersumber dari adanya kesamaan (similarity), familiarity (perasaan dekat), liking (perasaan menyukai), dan fisik (cantik, menarik, ganteng, gagah). Perasaan kesamaan, perasaan dekat, perasaan suka pendengar pada komunikator didapat dari bahasa yang sama, suku yang sama, seagama, satu daerah asal, satu partai, kesamaan ideologi, dan keramahan pribadi. Siswa sering menyukai guru bahasa Inggeris yang ramah-menarik, yang selalu tersenyum pada saat mengajar. Siswa suka berkomunikasi pada guru BK oleh karena guru BK penuh penerimaan, penuh pengertian, dan selalu tampil simpati.
4)  Kekuatan/Kekuasaan (Power)
      Komunikator yang mempunyai kekuasaan akan lebih mudah mempengaruhi orang tujuannya. Misalnya guru Matematika lebih mudah mempengaruhi  siswa dalam pelajaran Matematika daripada guru bahasa.
            Di samping komunikasi efektif yang dapat dilakukan oleh guru terhadap siswa, sejawat, orang tua/wali siswa, maupun individu lain di masyarakat, yang telah dikemukakan di atas  (yaitu mempunyai pengenalan diri, kepercayaan diri, daya tarik, kekuasaan), hal lain yang dapat dilakukan oleh guru agar komunikasi guru terhadap siswa, sejawat, orang tua/wali siswa, maupun terhadap masyarakat luas adalah dengan melakukan hal berikut:
1) Berinteraksi dengan menggunakan bahasa (verbal) yang jelas, tepat, dan mengikuti kaidah-kaidah dalam bahasa Indonesia yang benar
2)  Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulisan yang benar
3)  Mengkombinasikan bahasa lisan dan bahasa tulisan, agar informasi (pesan) yang hendak disampaikan mencapai sasarannya.
4)   Melengkapi keterampilan berbahasa lisan dan tulisan dengan keterampilan       
       bahasa  nonverbal
5)   Senantiasa melatih diri meningkatkan keterampilan berbahasa lisan, tulisan,
       dan bahasa nonverbal.




 
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar