Total Tayangan Halaman

Minggu, 20 Mei 2012

Minat dan Kreativitas

MINAT DAN KREATIVITAS  


1. Ketersinggungan Minat dengan Kreativitas
            Minat adalah kecenderungan yang berlangsung lama terhadap suatu objek atau dalam melakukan suatu kegiatan (perbuatan), yang didasari oleh perasaan tertarik, senang, yang muncul dari dalam diri, bukan dari tekanan eksternal. Pengertian minat tersebut menunjukkan bahwa karakteristik pokok dari minat adalah adanya perasaan tertarik yang berasal dari dalam diri, yang dengan demikian selalu menimbulkan perasaan senang.
            Adanya perasaan tertarik dan perasaan senang, dalam perkataan lain, ada minat, maka minat ini merupakan kondisi psikologis yang dapat mendorong (memotivasi) munculnya kreativitas. Kreativitas akan muncul apabila seseorang telah memulai dengan berpikir dan/atau berbuat sesuatu terlebih dahulu. Memulai tersebut membutuhkan ketertarikan, perasaan senang, dan dorongan berbuat.

2. Konsep Kreativitas dan Karakteristiknya
             Banyak pengertian yang diberikan oleh para ahli mengenai kreativitas. Menurut Hurlock (1978), ada delapan yang populer, yaitu: Pertama, pengertian yang menekankan kreativitas sebagai pembuatan sesuatu yang baru dan berbeda. Sementara itu, tidak sejalan dengan pemahaman ini, memandang bahwa kreativitas tidak selalu dalam bentuk suatu hasil yang dapat diamati, sebab dari perbuatan melamun juga dapat menghasilkan kreativitas. Oleh karena itu, kreativitas dipandang sebagai suatu proses – suatu proses adanya sesuatu yang baru, dapat dalam bentuk benda, gagasan. Kedua, kreativitas dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal, misalnya seorang anak yang bermain mencampur-campurkan cat berwarna, secara kebetulan menemukan warna baru yang belum pernah ia temukan sebelumnya dalam permainannya. Ketiga, mempunyai anggapan bahwa apa saja yang diciptakan selalu baru dan berbeda dari yang telah ada dan oleh karenanya unik. Pandangan ini mengandung kelemahan oleh karena sesuatu yang baru itu tidak selalu baru, melainkan yang lama merupakan dasar bagi yang baru. Semua kreativitas mencakup gabungan dari gagasan atau produk lama ke dalam bentuk baru, tetapi yang lama merupakan dasar bagi yang baru. Misalnya seorang pelukis yang menghasilkan warna  merah yang baru, menggunakan warna lama. Keunikan merupakan prestasi yang sifatnya pribadi, jadi belum tentu merupakan prestasi yang universal. Contohnya, orang dapat menjadi kreatif bila dapat menghasilkan sesuatu yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya, walaupun hasil tersebut sama (serupa) dengan hasil yang diperoleh oleh orang lain. Gagasan keempat memandang kreativitas sebagai proses mental yang unik, yang dilakukan semata-mata untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda, dan orisinal (asli). Menurut Guilford (Hurlock, 1998), kreativitas mencakup jenis pemikiran berbeda (divergent thinking), yaitu pemikiran yang menyimpang dari jalan yang telah dirintis dan mencari variasi. Ia melampaui beberapa jawaban yang mungkin ada untuk suatu masalah, bukan hanya satu penyelesaian yang benar. Orang yang kreatif suka mengutak-atik segala sesuatu secara mental dan mencoba berbagai kemungkinan. Orang yang kreatif lebih luwes dan lancar daripada pemikir selaras (comformers) dan tidak terikat pada informasi yang ada. Ini membuat orang yang kreatif mempunyai gagasan yang lebih kaya dan membuka jalan ke arah penyelesaian yang baru. Karakteristik pemikiran berbeda lain yang digunakan dalam kreativitas adalah meloncat-loncat. Ia tidak bergerak dalam tahapan yang mudah diamati dan didefinisikan sebagaimana pada pemikiran selaras yang berlangsung secara berurutan. Kelima, kreativitas sering dianggap sama dengan kecerdasan yang tinggi. Hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa kecerdasan tinggi selalu seiring dengan kreativitas tinggi. Kreativitas hanya merupakan salah satu aspek dari kecerdasan, di samping aspek-aspek lain seperti ingatan, kemampuan menalar. Keenam, ada anggapan bahwa kreativitas adalah suatu yang diperoleh atau diwariskan. Terdapat bukti bahwa jika orang ingin kreatif, mereka memerlukan pengetahuan yang diterima sebelum mereka dapat menggunakannya dengan cara yang baru dan orisinal. Ketujuh, kreativitas selalu dianggap sinonim dengan imajinasi dan fantasi. Goldner (Hurlock, 1998) telah mengatakan bahwa kreativitas merupakan kegiatan otak yang teratur, komprehensif, dan imajinatif menuju suatu hasil yang orisinal. Kedelapan, menganggap bahwa kreatif adalah pencipta, bukan penurut. Penurut melakukan apa yang diharapkan dari mereka tanpa menyulitkan orang lain, sedangkan pencipta menyertakan gagasan orisinal, titik pandang yang berbeda, atau cara baru menangani masalah dan menghadapinya.
            Hurlock (1998) mengemukakan definisi kreativitas yang ia pandang lebih baik, yang berasal dari Drevdahl, yaitu kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai maksud tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat berbentuk produk seni, kesusasteraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis.
            Baron (dalam Munandar, 2004) menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Munandar (1984) mengatakan bahwa kreativitas sampai saat ini terutama tertuju pada produk hasil pemikiran dan perilaku manusia, namun sebetulnya menurut beliau adalah lebih esensial melihat kreativitas sebagai suatu proses.
Munandar (2004) berpandangan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran (fluency), keluwesan (fleksibilitas), orisinalitas dalam berpikir, dan kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Senada dengan Munandar, Guilford membedakan karakteristik kreativitas ke dalam ciri kognitif dan nonkognitif. Ciri-ciri kreativitas berpikir (kognitif) meliputi lima, yaitu:
1) Keterampilan berpikir lancar (fluency): Mencetuskankan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah dan pertanyaan, memberikan  banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal serta selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
2) Keterampilan berpikir luwes (flexbility): Menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
3) Keterampilan berpikir orisinal (originality): Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri serta mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4) Keterampilan merinci atau menguraikan (elaboration): Mampu mengetahui perbedaan antara khayalan dan kenyataan
5) Memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk dan menambahkan atau merinci detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menarik.
6) Keterampilan perumusan kembali (redefinition): Menentukan apakah suatu pernyataan benar, suatu rencana sehat, atau suatu tindakan bijaksana, mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka.
Ciri-ciri afektif antara lain:
1) Rasa ingin tahu: Dorongan untuk mengetahui lebih banyak, mengajukan banyak pertanyaan, selalu memperhatikan orang lain, objek dan situasi, serta peka dalam pengamatan dan ingin tahu, ingin meneliti.
2) Imajinatif: Kemampuan untuk memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi, dan menggunakan khayalan tetapi mengetahui perbedaan antara khayalan dan kenyataan.
3) Merasa tergantung oleh kemajemukan, meliputi dorongan untuk mengatasi yang sulit, merasa tertantang oleh situasi-situasi rumit serta lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit.
4)  Berani mengambil resiko: Berani memberi jawaban yang belum tentu benar, tidak takut gagal, atau mendapat kritik serta tidak menjadi ragu-ragu karena ketidak jelasan hal-hal yang tidak konvensional, atau yang kurang terstruktur.
5)  Sikap menghargai: Dapat menghargai bimbingan dan makna dalam hidup, serta menghargai kemampuan dan bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang.
            Dalam suatu penelitian yang telah dilakukan di Indonesia terhadap sejumlah ahli psikologi untuk mengetahui ciri-ciri manakah menurut pendapat mereka paling mencerminkan kepribadian kreatif, diperolah urutan ciri-ciri sebagai berikut (Munandar, 1977 dalam Semiawan dan kawan-kawan, 1984):
1) Mempunyai daya imajinasi yang kuat
2) Mempunyai inisiatif
3) Mempunyai minat yang luas
4) Bebas dalam berpikir (tidak kaku atau terhambat)
5) Bersifat ingin tahu
6) Selalu ingin mendapat pengalaman-pengalaman baru
7) Percaya pada diri sendiri
8) Penuh semangat (energetic)
9) Berani mengambil resiko (tidak takut membuat kesalahan)
10) Berani dalam pendapat dan keyakinan (tidak ragu-ragu dalam menyatakan pendapat meskipun mendapat kritik dan berani mempertahankan pendapat yang menjadi keyakinannya)
Berdasarkan pengertian-pengertian dan karakteristik kreativitas yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru atau berbeda atau bersifat orisinal bagi orang lain dan dapat pula bagi yang bersangkutan meskipun tidak baru bagi orang lain. Sesuatu yang baru tersebut dapat berupa gagasan, pemikiran, maupun produk. Jika dilihat domainnya, kreativitas meliputi domain pikiran (kognitif), tingkah laku (behavior), dan perasaan (afektif). 

3. Mengembangkan Kreativitas Anak dalam Belajar
            Hurlock (1998), Munandar (1984) berpendapat bahwa semua orang mempunyai kreativitas, yang berbeda adalah tingkatannya. Dasar kreativitas sebagaimana potensi bawaan lainnya, diturunkan. Perkembangannya dirangsang sejak bayi, yakni sejak anak mengenal, mempermainkan alat permainannya. Bakat kreatif yang dimiliki oleh setiap orang akan dapat terhambat untuk mewujud disebabkan oleh faktor yang berasal dari dalam diri maupun yang berasal dari luar diri (yaitu lingkungan). Dalam dunia pendidikan (pendidik-guru, orang tua, dan pendidik lainnya), diperlukan kondisi-kondisi tertentu yang akan menstimulasi dan meningkatkan kreativitas anak. Menurut Munandar (1984), kondisi-kondisi lingkungan yang bersifat memupuk kreativitas anak adalah keamanan psikologis dan kebebasan psikologis. Anak merasa aman secara psikologis apabila: 1) Pendidik menerima anak sebagaimana adanya, dengan segala kekuatan dan kelemhannya, serta memberi kepercayaan pada anak bahwa anak pada dasarnya mampu. 2) Pendidik mengusahakan suasana sehingga anak tidak merasa dinilai oleh orang lain. Memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri. Oleh karenanya di sekolah pendidik (guru) menciptakan kondisi ujian yang tidak menimbulkan perasaan terancam dalam diri anak. 3) Pendidikan/pendidik dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melihat dari sudut pandang anak. Dalam situasi demikian, anak merasa aman untuk mewujudkan kreativitasnya.
Anak akan merasakan kebebasan psikologis apabila orang tua, guru, memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Hal lain, anak diberi kesempatan menjajaki alternatif jawaban-jawaban, pemecahan masalah, dan lebih penting lagi anak dilatih menemukan masalah, memberi pertimbangan-pertimbangan, penilaian. Pendidik meminta siswa mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan akibat dari suatu situasi, gejala, atau kejadian, membuat prediksi mengenai apa yang terjadi dan bagaimana perkembangan yang dapat diperkirakan berdasarkan data atau informasi yang tersedia.
Munandar (1984) mengemukakan beberapa saran untuk menciptakan iklim dan suasana yang mendorong dan mendukung pemikiran kreatif, sebagai berikut:
1) Bersikap terbuka terhadap minat dan gagasan anak
2) Memberi waktu kepada anak untuk memikirkan dan mengembangkan gagasan kreatif. Kreativitas tidak selalu timbul secara langsung dan spontan
3) Menciptakan suasana saling menghargai dan saling menerima, sehingga anak
    dapat bekerja sama dengan baik dan dapat belajar secara mandiri.
4) Mengembangkan kreativitas dalam semua bidang
5) Mendorong kegiatan berpikir divergen dan menjadi nara sumber.
6) Menciptakan suasana hangat dan mendukung, sehingga memberi keamanan
    dan kebebasan untuk berpikir menyelidiki (eksploratif)
7) Memberi kesempatan kepada anak untuk berperan serta dalam mengambil
     keputusan
8) Mengusahakan agar semua anak/siswa terlibat dan mendukung pemecahan dari anak. Mendukung bukan berarti menyetujui, melainkan menerima, menghargai, dan jika belum tepat mengusahakan ketepatan pemecahan secara bersama.
9) Bersikap positif terhadap kegagalan anak, membantu anak menyadari kesalahan atau kelemahannya, dan mengusahakan peningkatan gagasan dan usaha anak agar memenuhi syarat, dalam suasana yang mendukung.   
            Hurlock (1998) mengemukakan kondisi-kondisi yang meningkatkan kreativitas adalah:
1) Dari segi waktu, kegiatan anak seharusnya tidak diatur sedemikian rupa sehingga anak hanya mempunyai sedikit waktu bebas untuk bermain-main dengan gagasan dan konsep-konsep. Sedikit waktu untuk mencobanya dalam bentuk baru dan orisinal.
2) Kesempatan menyendiri: Anak membutuhkan waktu untuk menyendiri tanpa tekanan sosial untuk mengembangkan imajinasinya yang kaya
3)  Dorongan: Anak harus didorong untuk kreatif, bebas dari kritik dan ejekan yang seringkali dilontarkan terhadap anak yang kreatif
4)  Sarana: Sarana perlu disediakan untuk merangsang dorongan eksperimentasi dan eksplorasi.   
5) Lingkungan yang merangsang: Lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas anak dengan memberi bimbingan dan dorongan menggunakan sarana yang akan memunculkan kreativitas.
6) Hubungan orang tua – anak yang tidak posesif: Orang tua tidak terlalu melindungi (posesif) terhadap anak, sebaliknya mendorong anak untuk mandiri dan percaya diri.
7)  Cara mendidik anak: Mendidik anak secara demokratis dan permisif di rumah dan di sekolah meningkatkan kreativitas, sedangkan cara mendidik otoriter memadamkan kreativitas.
8)  Kesempatan memperoleh pengetahuan: Semakin banyak pengetahuan yang dapat diperoleh oleh anak, semakin baik dasar untuk mencapai hasil yang kreatif. Oleh karenanya anak memerlukan dukungan pengetahuan yang cukup bahkan kaya.

1 komentar:

  1. Slot machine review - DrmCD
    It's a pretty hard and fast game to choose 보령 출장마사지 from. The game is simple 여수 출장마사지 and simple and if you're 시흥 출장마사지 looking to 경상남도 출장마사지 try some of the casino 광양 출장안마 games to find value.

    BalasHapus